Sabtu, 02 Juni 2012

Mereduksi Konflik Antar Agama

“Orang-orang yang diberi alkitab tidak berselisih kecuali setelah mereka mendapatkan ilmu karena rasa ingin saling mengalahkan (baghy) diantara mereka” (QS 3:9)
“Bukti kepercayaan terbesar adalah jika seseorang memutuskan bahwa dirinya bukanlah Tuhan” (Oliver Wendell Holmes, Jr)
Pengalaman agama adalah soal batiniah dan subyektif, juga sangat individualistis. Juga barangkali tidak ada orang yang bicara begitu bersemangat dan emosional lebih dari pada membicarakan agama” (Mukti Ali) Persoalan agama merupakan hal yang sensitif, karena berhubungan dengan pribadi antar manusia dengan Tuhan. Agama menyakut kesadaran religius, yang tersembunyi dalam setiap individu. Jadi keimanan beragama merupakan suatu hal yang tidak dapat dipaksakan. Setiap usaha memaksa, dengan cara mewajibkan atau melarang agama tertentu merupakan pelanggaran serius terhadap hak pribadi (Siagian, 1987). Oleh karena itu penghinaan atau penghujatan terhadap suatu agama tertentu menjadi persoalan serius yang sulit untuk diatasi, apalagi hanya memandang dari perspektif hukum positif.
Berdasarkan sejarah masa lalu, sebenarnya menurut Parsen (dalam Koentjaraningrat, 1982) Indonesia merupakan tempat pertemuan agama-agama di dunia. Keaneka-ragaman agama yang ada di Indonesia dapat dikatakan tidak menimbulkan permasalahan atau pertentangan, namun justru menunjukkan adanya toleransi, kerjasama dan saling menghormati. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak dapat dilepaskan dari dinamika kehidupan yang mendorong terjadinya perubahan sosial. Perubahan tersebut searah dengan semakin majunya masyarakat menuju era modernisasi dan globalisasi dalam segenap bidang kehidupan.
Modernisasi dalam masyarakat adalah suatu proses transformasi; suatu perubahan masyarakat dalam segala aspeknya (Schoorl, 1991). Perubahan-perubahan tersebut meliputi:
1. Bidang Politik
Dari sistem yang menganut kekuasaan kepala adat / desa yang sederhana digantikan dengan sistem pemilihan umum, perwakilan dan birokrasi. Selain itu persoalan keagamaan dijadikan “isu” politik, karena dukungan politik sangat diperlukan untuk membesarkan suatu kelompok / sekte agama tertentu. Akhirnya persoalan agama menjadi kendaraan politik bagi pemimpinnya.
2. Bidang Teknologi
Terjadi perubahan dalam penggunaan teknik-teknik yang sederhana dan tardisional ke taknologi canggih hasil penggetahuan ilmiah. Perangkat komunikasi yang semakin canggih akan mengurangi sensitifitas dan keterdekatan secara sosial antar satu individu dengan individu lainnya. Akhirnya akan mempermudah keberpihakan pada kepentingan individual daripada kepentingan bersama.
3. Bidang Pendidikan
Masyarakat berusaha keras meningkatkan kemampuan baca tulis dan mengurangi buta huruf. Hal ini berpengaruh dalam penafsiran akan firman Allah yang mulai menggunakan rasio (logika). Hal ini pun menjadi awal persoalan internal kelompok beragama maupun antar umat yang berbeda agama. Padahal kemampun akal dalam melakukan interpretasi terhadap sebuah teks selalu banyak mengalami kelemahan (Jamuin, 1999), apalagi menyalahi ketentuan agama (Mudzakarah dalam Al Muslimun, 1998)
4. Bidang Sosial
Adanya mobilitas geografis dan sosial cenderung merenggangkan sistem-sistem hirarki yang ada. Anggota masyarakat yang sebelumnya mempunyai sikap kebersamaan dan keterkaitan yang tinggi pada adat istiadatnya serta kepatuhan terhadap ketua adat atau sesepuh, sekarang sikap tersebut semakin melemah dan bahkan hilang sama sekali. Selain penyelesaikan persoalan yang bisa dilakukan secara adat / budaya berubah menjadi penyelesaian secara hukum.
Faktor Penyebab Pertentangan Antar Umat Beragama
Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya permasalahan / pertentangan antar umat beragama, antara lain:
1. Prasangka Sosial
Prasangka merupakan fenomena yang terjadi antar kelompok yang cenderung berkonotasi negatif (Kuppuswamy, 1973). Prasangka bisa muncul karena adanya konflik atau kompetisi antar kelompok. Prasangka tersebut terkait erat dengan stereotipe negatif pada kelompok lain atau stigma yang akan melekat dan diturunkan terus menerus dalam kehidupan berikutnya, akhirnya prasangka tersebut akan terlihat sebagai dosa turun temurun yang akan selalu dilabelkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada akhirnya, prasangka yang tak kunjung selesai akan menciptakan keinginan untuk melakukan diskriminasi dalam berbagai bidang kehidupan. Akan muncul konsep dan yang menganggap orang-orang yang se ide dan se ideologi sebagai kelompok yang benar, dan sebaliknya orang yang tidak satu ideologi dianggap sebagai ancaman. Sebagaimana yang terungkap dalam investigasi (Gatra, 2001) tentang banyak bermunculan panglima cilik dari komunitas Islam (putih) maupun Kristen (Merah) di dalam kerusahan Ambon, akibat dari konflik yang terus menerus dan semakin menguatkan persepsi negatif diantara mereka.
2. Fanatisme yang berlebihan dan keliru dalam kehidupan beragama
Pertentangan antar umat beragama bisa muncul bila terjadi pandangan yang mengagung-agungkan agamanya, namun menganggap rendah agama lain. Akhirnya, segala hal yang menyangkut agama lain, dianggap sesuatu yang negatif atau bahkan dianggap sebagai musuh yang tidak wajib dihormati. Akhirnya pandangan tersebut menjadi embrio lahirnya konflik antar umat beragama.
3. Kurangnya Komunikasi
Suatu pertentangan atau permusuhan kadangkala disebabkan oleh ketidaklancaran dalam mengkomunikasikan pesan. Dimana pesan ditangkap oleh orang lain sebagai sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diinginkan oleh pemberi pesan. Akhirnya akan terjadi kesalahan persepsi akan maksud pesan tersebut, yang berlanjut dengan ketegangan antara pemberi dan penerima pesan.Begitu juga dalam kehidupan beragama, suatu ketegangan akan terjadi bila suatu hal yang dikomunikasikan oleh agama tertentu dipersepsikan keliru oleh agama yang lain. Maka dari itu sangat perlu adanya forum komunikasi antar umat beragama dalam rangka untuk mereduksi persepsi dan sensitivitas antar pemeluk agama.
4. Pencampur adukan kepentingan agama dengan kehidupan sosial, politik, dan ekonomi
Kepentingan agama memang tidak dapat dilepaskan dari faktor-faktor lain yang melingkupinya. Kadangkala umat beragama perpecah menjadi berbagai kepenting yang mempunyai misi dan visi berbeda. Akhirnya apabila muncul ketegangan diantara berbagai kepentingan tidak dapat melepaskan diri dari atribut kepentingan politik atau ekonomi yang disandangnya. Memang dalam sejarah Indonesia banyak sekali variasi dalam hubungan antar umat beragama dengan kekuasaan dan negara.
5. Kurangnya wawasan akan ilmu agama
Cara pemahaman masyarakat / umat beragama dalam kehidupan beragama lebih cenderung mengarah pada fanatisme, bukan pada perluasan wacana keagamaan. Yang terjadi justru distorsi akan nilai-nilai agama, dan lebih mengedepankan kharismatisme dan pengkultusan tokoh agama, bukan pada cara-cara menggunakan analisis atau pemahaman hakekat keagamaan.
6. Terakumulasi permasalahan sosial ekonomi
Masalah-masalah sosial di masyarakat; pengangguran dan kemiskinan dapat pula menjadi dasar munculnya kerusuhan di masyarakat, apalagi bila dihubungan dengan persoalan agama. Karena fakta sampai saat ini agama bisa menjadi precipitating factor / even yang ampuh dalam memunculkan kerusuhan. Apalagi hadir aktor “provokator” yang bisa memainkan isu, sehingga massa dengan muda terbakar emosi, yang akhirnya konflik tidak dapat dihindari lagi.
Dalam kehiduapan sosial yang semakin komplek dan penuh dengan kompetisi, maka penghayatan akan toleransi masih merupakan wacana yang sulit untuk diimplementasikan pada tingkatan realitas. Dimana orang-orang masih melakukan proses heuristics atau mental dalam mempersepsikan segala hal yang terkait dengan orang lain. Ada prototype di dalam struktur kognitif seseorang yang dibangun dari sebuah proses interaksi dan internalisasi dengan lingkungan sosialnya, dalam arti kultur, agama, etnis atau lingkungan keluarga. Prototype tersebut tidak selalu benar, banyak distorsi kognitif yang menyulitkan munculnya toleransi pada orang lain. Selain itu egoisme pribadi yang menetapkan diri pribadi atau kelompoknya menjadi tolak ukur dalam menilai orang lain pun menyulitkan seseorang untuk bertoleransi dengan orang atau kelompok lain. Selama nilai-nilai toleransi yang dibangun atas kesadaran kognisi dan rasionalitas nilai agama belum menjadi prilaku komunal maka konflik tidak bisa terhindarkan. 

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Penanggung Jawab Miftah Budi Kurniawan | Supported by Cheat Game 4U